Thursday, November 29, 2012

Gejolak Batin Seorang Perindu Syahid#1

Termenung menatap hamparan birunya langit yang berhiaskan gumpalan-gumpalan awan putih, sok puitis namun memang apa daya jika realitasnya memang begitu. Not responding! Otak ini sejenak rehat dari berbagai macam problematika kehidupan. Lebih tepatnya sedang dalam kondisi galau mode ON. "Dia menciptakan langit tanpa tiang yang kamu melihatnya dan Dia meletakkan gunung-gunung (di permukaan) bumi supaya bumi itu tidak menggoyangkan kamu; dan memperkembang biakkan padanya segala macam jenis binatang. Dan Kami turunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan padanya segala macam tumbuh-tumbuhan yang baik."(Luqman:10). Luar biasa! Lagi galau enaknya memang menyendiri di tempat sepi ditemani angin sepoi-sepoi sambil mentadabburi hasil kreasi Sang Kholiq. Ya Rabb! Ayat-ayatmu telah benar-benar menggetarkan seorang yang hatinya telah banyak dihiasi dengan noktah-noktah hitam simbol buruknya tabiat.

Menikah atau syahadah? Khitbahan atau mitsyahidan? Pacaran atau tahlilan(kayaknya keluar topik dech!)? Tak jauh-jauh dari masalah pengen nikah di dunia atau langsung akhirat. Benar-benar pilihan level 'chaos'. Kayak disuruh milih lebih suka mana antara makan kulit duren sama kulit semangka? Sama aja dua-duanya tak ada yang lebih dipilih. Analogi yang nyeleneh akibat galau tingkat sakau, jadinya ya semacam nge-'fly'. Di satu sisi ingat, "Apabila seorang hamba menikah maka sungguh orang itu telah menyempurnakan setengah agama maka hendaklah dia bertakwa kepada Allah dalam setengah yang lainnya."(HR. Baihaqi). Menikah = setengah agama? Dan di sisi lain ingat, "Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik."(Taubah:24). Ya Rabb! Sungguh hamba takut manakala telah menikah di dunia dan ayat tersebut tidak bisa hamba tunaikan. Sungguh tempat tinggal ini sudah cukup menjadi halangan betapa beratnya untuk berhijrah menuju bumi jihad, apalagi jika telah beristri, dan tambah berat lagi ketika telah mempunyai anak-anak yang unyu-unyu. Ya Rabb! Ampunilah hambamu yang fakir ini, mudahkanlah jalan menuju syahadah.

Khitbahan atau khitanan? eh salah, Khitbahan atau mitsyahidan? Untuk kesekian kalinya pertanyaan itu terngiang-ngiang di kepala yang ukurannya tak lebih besar dari batok kelapa yang sering dijajakan di pantai-pantai(nyeleneh kumat again!). "Tunjukkanlah kepada kami amal yang menyamai jihad? Rasul menjawab,'Aku tidak mendapatkannya'. Lalu beliau bersabda,'Apakah kamu mampu jika seorang mujahid keluar (berperang), kamu masuk ke dalam masjid, lalu berdiri (untuk shalat) tanpa terputus dan berpuasa tanpa berbuka?', Orang itu berkata:'Siapakah yang dapat melakukan itu?'.(HR. Bukhari). Ya Rabb! Jadikanlah hati ini senantiasa berkobar hatinya untuk menyongsong musuh-musuhmu dan berharap akhir yang baik karena berondongan peluru-peluru ataupun lontaran mortir-mortir para thaghut yang menyelisihi diin ini. Biarkanlah darah mengalir membasahi baju yang melekat di tubuh ini untuk terbang menyongsong syahadah, dan biarkanlah keringat membasahi dahi yang senantiasa bersujud mengharap ampunan luas dariMU sebagai tanda syahid.

"Nobody who enters Paradise likes to go back to the world even if he got everything on the earth, except a Mujahid who wishes to return to the world so that he may be martyred ten times because of the dignity he receives (from Allah)."- Prophet Muhammad-
Kalo tidak paham jangan dipaksa, baca translate-nya saja dibawah ini:
“Tidak seorangpun yang masuk surga namun dia suka untuk kembali ke dunia padahal dia hanya mempunyai sedikit harta di bumi, kecuali orang yang mati syahid. Dia berangan-angan untuk kembali ke dunia kemudian berperang lalu terbunuh hingga sepuluh kali karena dia melihat keistimewaan karamah (mati syahid).”(HR. Bukhari dan Muslim).

Tahukah kau kawan! Inilah yang membuatku galau sekaligus terpukau. Keutamaan syahid membuatku terpukau dan urusan nikah menjadi semacam ranjau yang bisa membuat galau karena sewaktu-waktu meledak tanpa ada aba-aba(lagi-lagi g nyambung!). Pokoknya urusan nikah ini bikin galau lah. Kadang terbersit dalam pikiran punya banyak istri (2
إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْقُرْآن
(وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ (111
Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.(Taubah:111).

Semoga curahan hati sobatmu ini bisa diambil pelajarannya, dan bukan malah tertular ke-galau-annya. "Kayaknya di tulisan ini penulis cenderung berat sebelah dech?" Mungkin pertanyaan itu muncul di benak sobat-sobat sekalian. Insyaallah ada sekuel berikutnya yang menjadikan nikah sebagai urusan yang tidak bisa diabaikan. Semoga curhatan galau_jilid#2 bisa tercurah di tulisan berikutnya. "Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung."(Imran:173).
(Ao49/galau_jilid#1)

sumber : http://www.shoutussalam.com

No comments:

Post a Comment