Showing posts with label Kisah Teladan. Show all posts
Showing posts with label Kisah Teladan. Show all posts

Saturday, April 13, 2013

Pesebak-bola Dunia yang Mempertahankan Keyakinan Muslimnya di Lapangan

Menjadi minoritas bukanlah sesuatu yang mudah, apalagi jika itu terkait keyakinan. Dibutuhkan ketahanan mental, keyakinan yang kuat serta kemampuan beradaptasi yang ekstra untuk tetap eksis sebagai minoritas. Itulah kira-kira tantangan yang dihadapi oleh para pemain bola Muslim di kancah persepakbolaan Eropa. Dalam beberapa momentum, misalnya yang paling mencolok saat Ramadhan, mereka dituntut untuk tetap menjadi Muslim sejati sekaligus professional di lapangan. Bayangkan, mereka harus berpuasa sambil bertanding bola.
Samir Nasri
10 Kisah Unik dan Menarik Pemain Sepakbola Dunia
Terbiasa untuk membaca surat Al-Fatihah sebelum pertandingan. Hal ini dilakukannya baik di tingkat klub bersama Arsenal atau ketika berada di timnas Prancis. Namun, untuk puasa Ramadhan, Nasri tidak berani melakukannya. Mengingat jadwal Premier League yang padat plus puasa yang jatuh pada musim panas..
Mesut Ozil
10 Kisah Unik dan Menarik Pemain Sepakbola Dunia
Warga negara Jerman yang beragama Islam. Walaupun dibulan Ramadhan ia tak meninggalkan kebiasaanya berdoa dan membaca Al Qur’an. Sesibuk apapun ia selalu berusaha untuk membaca Al Qur’an.
Sebagai seorang Muslim, Mesut Ozil merasakan bulan Ramadhan saat ini memberikan banyak keberkahan tersendiri, karena dibulan Ramadhan tahun inilah pamornya makin berkibar dipentas sepakbola Eropa. Pemain yang gemar membaca Al Qur’an ini dibayar mahal oleh klub raksasa Spanyol, Real Madrid.
Thierry Henry
Banyak orang bertanya-tanya terhadap apa yang dilakukan oleh pesepak bola Thierry Henry, Pasalnya ia seringkali bersujud mencium tanah ketika memasukan bola ke kandang lawan, seperti apa yang dilakukan kebanyakan pemain bola muslim sebagai tanda syukur. Dalam sebuah wawancaranya yang disiarkan dari kantor berita Al Jazeerra, Henry membenarkan ke-islaman-nya.
Saat ditanya Islam dikaitkan dengan teroris, Henry membantah akan anggapan tersebut.
“Sekali lagi, saya selalu menegaskan bahwa Islam bukan teroris, sebab jika seseorang benar-benar percaya pada Allah, sudah pasti ia percaya pada Al-Qur’an dan Rasul terakhir, karena Al-Qur’an dan Rasul pada dasarnya ditakdirkan Allah untuk membawa kedamaian, dan itulah Islam.”  Tukas Henry.
Kolo Toure
Mengaku pernah mencoba tetap berpuasa, tapi kondisi latihan berat memaksa ia membatalkan puasanya. “Tapi saya pasti akan menggantinya di hari atau bulan lain. Itu adalah konsekuensi sebagai seorang muslim,” ujar Toure.
Eric “Bilal” Abidal
Sejak masuk Islam, Abidal berusaha menjadi Muslim yang taat. Kariernya di lapangan hijau kian moncer. Penggemar La Liga Spanyol pasti mengenal sosok Eric Abidal. Ia dikenal sebagai bek andal yang memperkuat FC Barcelona dan Timnas Prancis. Ia suka membaca Al Quran sebelum bertanding.
Di setiap sesi latihan klub sepakbola Barcelona, Eric sering terlihat membawa tas kecil, mungkin banyak yang mengira isi tasnya si eric sama seperti teman teman di klubnya barcelona jika latihan bola: sepatu dan perlengkapannya yang menunjang untuk latihan.
Sebenarnya yang eric bawa dan membedakan isi tas kecilnya dengan pemain bola lain adalah alqur’an, Kitab suci Ummat islam di seluruh dunia yang “kini” menjadi agama Minoritas di eropa.
Karim Benzema
Striker anyar Real Madrid, Karim Benzema juga menjalankan puasa. Lahir di Lyon, Prancis 19 Desember 1987, Benzema merupakan striker andalan tim nasional Prancis. Sama seperti legenda Prancis, Zinedine Zidane, Benzema juga berdarah Aljazair.
Beruntung bagi Benzema, puasa tahun kemarin dia tidak sendirian di Santiago Bernabeu. Setidaknya ada Mahmadou Diarra dan Lassana Diarra yang juga beragama Islam.
Ketiganya tetap menjalankan puasa meski harus membela Madrid, tak heran jika tim dokter Madrid terus memantau perkembangan fisik ketiga pemainnya selama bulan Ramadan. Baik Benzema, Mahmadou dan Lassana diberikan nutrisi tambahan agar tidak terkena dehidrasi selama menjalani ibadah puasa tahun ini. Beruntung bagi Madrid, Ramadhan tidak terlalu berpengaruh besar saat mereka tampil.
Christian Negouai

Saat akan menjalani tes doping dan harus diambil sample kencingnya , Negouai sedang berpuasa. Praktis, Kencingnya tak mau keluar. Kevin Keegan (Manajer kala itu) menyodorkan air putih untuk diminum agar kencingnya bisa segera keluar, namun Negouai tetap menolaknya karena ia sedang berpuasa. Negouai memilih membayar denda 2.000 Pound (± Rp. 30 juta) dari kantongnya daripada membatalkan puasa. Itu baru dedikasi bung!
Nicolas Anelka
Kala itu, Manajer Chelsea (Mas Andres Villas Boas), menyuruh pemain yg sedang puasa untuk tetap berada di meja makan tim walu sedang berpuasa. Praktis, Anelka dan beberapa pemain muslim Chelsea lainnya hanya nonton pemain la9n makan . Anelka berkata: “Walau iri, saya tetap harus menangguhhkan puasa.”
Frederic Kanoute
Menolak menggunakan seragam klubnya karena disponsori oleh rumah judi. Bahkan ketika seragam itu digunakan, Kanoute menutupinya dengan plester hitam. Pada 2007, ia pernah mengeluarkan uang sebesar US$700.000 (± Rp. 6,4 Milyar) dari koceknya sendiri untuk menyelamatkan sebuah Masjjid di Sevilla. Sampai sekarang masjid tersebut menjadi tempat shalat komunitas Islam di Sevilla.
Yang paling kontroversial dari Kanoute adalah ketika Israel membombardir Palestina, akhir tahun 2008 hingga awal Januari 2009. Kanoute usai menjaringkan bola ke gawang lawan, membuka bajunya untuk memperlihatkan kaos dalamnya yang bertuliskan “PALESTINA”. Kata Palestina itu ditulis juga dalam beberapa bahasa yang lain. Ini tentu saja dimaksudkan sebagai dukungan Kanoute pada Palestina yang sedang digempur oleh pasukan Israel di Gaza.
Franck Ribery
10 Kisah Unik dan Menarik Pemain Sepakbola Dunia
Mualaf setelah menikahi seorang gadis Perancis keturunan Maroko. Memiliki nama Islam yaitu Frank Bilal Ribery. Menurutnya Islam membawanya pada keselamatan. Islam yang menjadi sumber kekuatannya di dalam maupun di luar lapangan. Di saat ia mengalami masa-masa sulit dalam karirnya, Islam datang memberikan kedamaian.
“Islam adalah sumber kekuatan saya di dalam dan di luar lapangan. Saya mengalami kehidupan yang cukup keras dan saya harus menemukan sesuatu yang membawa saya pada keselamatan. Hingga kemudian saya menemukan Islam.” Begitulah Ribery memahami Islam. (*azzans)
 
Sumber : EraMuslim.com

Friday, April 12, 2013

Kisah Wanita Misionaris Menangis Mendengar Bacaan Quran Sayyid Qutb

Dalam jiwa penuh dengan kekuatan Iman, maka pergilah Sayyid Quthb ke Amerika. Dalam perjalanan itu, ia bertanya-tanya kepada dirinya: Apakah saya pergi ke Amerika lalu disana akan berperilaku sebagaimana perilaku para utusan lainnya yang hanya puas dan merasa cukup dengan makan dan tidur saja? Ataukah saya harus datang membawa perilaku yang berbeda?
Apakah saya akan tetap menunjukkan keIslaman saya dan berpegang pada ajaran-ajarannya dan mentaati semua aturannya dalam kehidupan gemerlap untuk memuaskan hawa nafsu serta semua perbuatan haram? Segudang pertanyaan itu betul-betul menantang keimanannya. Namun, Sayyid sudah tahu apa yang harus ia lakukan setiba di Amerika.
Pada akhir tahun 1948, akhirnya Sayyid Quthb meninggalkan Iskandariah, Mesir, menuju Amerika melalui Kapal Api dengan melintasi laut tengah dan mengarungi samudera Atlantik. Diatas kapal api itulah banyak persitiwa yang terjadi dan membekas dalam hatinya. Bahkan kenangan dalam perjalanan menuju Amerika itu banyak dituangkan saat ia menulis Tafsir Fii Dzhilalil Qur’an. Salah satu kisahnya saat beliau melihat seorang misionaris Kristen berupaya mengkristenkan orang-orang Islam yang menumpang kapal tersebut. Kejadian itu berlangsung tepat ketika waktu bergulir menuju Shalat Jum’at.
Sayyid Quthb melihat sang misionaris tidak ubahnya pendeta-pendeta pada umumnya yang menawarkan ajaran agama Kristen yang sangat kacau. Sontak saja, hal ini membangkitkan rasa dan semangat keimanan Sayyid Quthb untuk menjaga akidah saudara semuslimnya. Tidak butuh menunggu waktu lama, beliau segera menghubungi kapten kapal untuk meminta izin mendirikan Sholat Jum’at di atas kapal. Semua orang Islam, berikut awak kapal pun kemudian mendatangi panggilan Shalat Jum’at yang diinisiasikan Sayyid Quthb. Ia pun akhirnya bertindak sebagai khotib. Dan usut punya usut Sayyid Quthb ternyata tengah melakukan perubahan besar dalam kapal tersebut.
Rupanya, shalat Jum’at yang ia pimpin adalah shalat Jum’at pertama yang didirikan di kapal tersebut. Mengenai hal ini, Sayyid Quthb sempat menulisnya dalam Tafsir Fii Dzihilalil Qur’an saat membahas Surat Yunus.
“Nahkoda kapal (seorang Inggris) memberikan kemudahan kepada kami untuk menunaikan shalat. Ia memberikan kelonggaran kepada para awak kapal, para juru masak, dan para pelayannya, yang kesemuanya beragama Islam untuk menunaikan shalat Jum’at bersama kami asalkan tidak ada tugas saat waktu itu. Mereka sangat bergembira, karena ini merupakan kali pertama dilaksanakannya shalat Jum’at di kapal tersebut.”
Sayyid bersama para jama’ah kemudian menjadi santapan para penumpang asing. Gerakan Sholat Sayyid dan kaum muslimin lainnya terasa asing bagi mereka namun memendam kelembutan ibadah yang begitu syahdu. Hingga sesaat setelah shalat Juma’at dilaksanakan, banyak diantara orang asing mendatangi Sayyid dan para jama’ah seraya mengucapkan selamat dan sukses atas ibadah Jum’at yang baru saja dilaksanakan. Sayyid Quthb pun menulis kenangan itu dalam Kitab Fi Dzhilalil Qur’annya,
“Saya bertindak sebagai Khatib dan imam shalat Jum’at itu. Para penumpang yang sebagian besarnya orang asing itu duduk-duduk berkelompok-kelompok menyaksikan kami shalat. Setelah menunaikan shalat banyak dari mereka, yang datang kepada kami untuk mengucapkan selamat atas kesuksesan kami melaksanakan tugas suci. Dan ini merupakan puncak pengetahuan mereka tentang shalat kami.”
Salah satu orang yang mendatangi jema’ah Sayyid Quthb adalah seorang wanita beragama Nashrani berkebangsaan Yugoslavia. Wanita itu sendiri adalah orang melarikan diri dari tekanan dan ancaman komunis Teito. Wanita itu mengaku takjub atas kesyahduan dan ketertiban Shalat Jum’at yang didirikan Sayyid Quthb dan kaum muslimin. Air matanya pun tak kuasa untuk dibendung. Ia menangis mengetahui betapa nilai-nilai rabbani yang dilantunkan Sayyid Quthb tidak mampu menahan perasaannya.
Wanita itu pun begitu heran. Ia bertanya-tanya alunan musik apa yang baru saja dibacakan Sayyid Quthb. Irama itu pun tidak pernah dikenalnya selama ini. Ia melihat sang imam (yakni Sayyid Quthb) membacakan kalimat-kalimat berlainan namun penuh dengan bahasa dan irama. Menurutnya hal itu tidak pernah ia dengar dalam agamanya selama ini. Akhirnya wanita itu pun kaget saat mengetahui bahwa bahasa yang dilantunkan Sayyid Quthb dalam Shalat Jum’at adalah ayat-ayat Al Qur’anul Karim, sebuah kitab suci mulia bagi umat muslim.
Inilah yang membuat Sayyid Quthb semakin memahami bagaimana kekuatan redaksi di dalam Al Qur’an begitu mempesona. Tidak hanya bagi umat muslim, juga bagi non musim. Karena ucapan takjub itu sendiri keluar dari mulut seorang wanita yang belum pernah memahami satu huruf pun di dalam Al Qur’an. Tentang kejadian itu, Sayyid Quthb menulis dalam Kitab Fii Dzhilalil Qur’an,
“Terjadinya peristiwa ini dan peristiwa-peristiwa serupa lainnya, yang dialami banyak orang menunjukkan bahwa di dalam Al Qur’an ini terdapat rahasia lain yang ditangkap oleh sebagian hati manusia, hanya semata-mata ia mendengar Al Qur’an dibaca. Boleh jadi keimanan wanita kepada agamanya dan pelariannya dari negeri komunis itu telah menjadikan perasaannya begitu sensitif terhdap kalimat-kalimat Allah secara mengaggumkan seperti ini.”
Maka itu Sayyid Quthb, merasa perlu untuk memperbincangkan Al Qur’an dengan kekuatannya, yang tersembunyi dan mengagumkan itu. Sebelum membicarakan segi-segi pengetahuan yang dapat diketahui lebih banyak, daripada orang lain oleh orang-orang yang mempelajari seni pengungkapan dan orang-orang yang berusaha memikirkan dan merenungkannya.
Menurut Sayyid Quthb penyampaian Al Qur’an memiliki keistemewaan karena yang ditunjukinya lebih luas, pengungkapannya lebih lembut, indah, dan lebih hidup. Selain itu menurut Sayyid Quthb, Al Qur’an pun memiliki metode penjelasan yang diluar kemampuan jangkauan manusia. Seperti bagaimana Al Qur’an menyampaikan metodenya dalam beberapa ayat di dalam surat Yunus.
“ dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir’aun dan bala tentaranya, karena hendak Menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Fir’aun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia: "Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya Termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)". (Surat Yunus, 90)
Menurut Sayyid Quthb, Sampai disini kisah ini diceritakan, kemudian dikomentari secara langsung, dengan firman yang diarahkan kepada pemandangan yang dihadapi sekarang,
“ Apakah sekarang (baru kamu percaya), Padahal Sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu Termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan. Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan kami.” (Surat Yunus 91-92)
Kemudian disusul lagi dengan membeberkan pandangan yang terus terjadi hingga sekarang ini, (bahkan pada masa-masa selanjutnya),
“ dan Sesungguhnya Kami telah menempatkan Bani Israil di tempat kediaman yang bagus dan Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik. Maka mereka tidak berselisih, kecuali setelah datang kepada mereka pengetahuan (yang tersebut dalam Taurat). Sesungguhnya Tuhan kamu akan memutuskan antara mereka di hari kiamat tentang apa yang mereka perselisihkan itu.” (Surat Yunus 93)
Maka benarlah kata Sayyid Quthb bahwa redaksi Al Qur’an sangat berbeda dengan redaksi ciptaan manusia. Redaksi atau susunan Al Qur’an mempunyai kekuatan yang hebat terhadap jiwa, dimana redaksi ciptaan manusia tidak pernah bisa memilikinya. Dengan hanya membacanya, maka kadang-kadang dapat menimbulkan pengaruh yang hebat terhadap orang-orang yang tidak tahu apa-apa tentang bahasa Arab. Ya termasuk wanita Yugoslavia itu, yang menangis mendengar bacaan Al Qur’an. (last/ermus)

Tuesday, April 9, 2013

Pertemuanku dengan Mujahid Keturunan Indonesia asal Yaman di Suriah

SURIAH  - Hari pertama tiba di kawasan Lattakia, Suriah, Jum’at (5/4/2013), kami berjumpa dengan dua orang mujahid Arab. Ciri fisik keduanya berbeda dengan orang-orang Arab Suriah. “Pasti pejuang dari negara arab lain,” ujar salah seorang diantara kami saat itu.

Di saat kami ingin menyapa beliau berdua, salah seorang yang lebih muda dari keduanya menyapa kami terlebih dahulu, “Apa kabar? kamu orang Indonesia?” tanya beliau dengan bahasa Indonesia, tentu kami kaget menemukan orang Arab di bumi jihad seperti ini yang bisa berbahasa Indonesia. Bahasa Indonesia yang diejakan dengan logat khas Arab memang kedengarannya agak lucu, tapi sangat menyenangkan.

Setelah berkenalan dengan keduanya, kami baru tahu ternyata keduanya adalah pejuang yang berasal dari Yaman. Keduanya masuk ke Suriah dengan seorang dokter bernama Abu Abdillah.

Yang paling tua memperkenalkan dirinya dengan nama Abu Utsman, sedangkan yang paling muda memperkenalkan dirinya dengan Abu Hamzah. Menurut kisahnya, Abu Utsman telah memiliki empat orang anak, yang paling besar umurnya 16 tahun. Lelaki yang berumur kisaran 45 tahun ini telah melalang buana ke berbagai bumi jihad. Ia pernah berjihad di Afghanistan, awal-awal penyerbuan Amerika ke negeri Islam Thaliban itu.

Ia juga sempat berjihad di Somalia dan Bosnia. Sebelum datang ke Suriah, sekian tahun berjihad membantu saudara-saudara muslimnya di Chechnya melawan kaum Atheis yang merenggut kehormatan wanita-wanita muslimah di sana dan memburu para laki-lakinya. Medan jihad yang paling berat, menurut Abu Utsman, adalah medan jihad di Chechnya. Bagaimana tidak? Setiap tahunnya, hampir lima bulan penuh bumi Chechnya direndam salju.

Sedangkan Abu Hamzah, mujahid yang berusia kisaran 35 tahun ini, pernah membantu saudara-saudaranya di Afghanistan mengusir penjajah Amerika. Bapak yang anak satu ini ternyata memiliki darah keturunan Indonesia, tepatnya di Aceh. “Mama saya dari Indonesia, papa dari Yaman,” tuturnya suatu saat. Pantas dia bisa berbahasa Indonesia.

“Bagaimana dengan keluarga Anda berdua?” Tanya saya suatu ketika. Keduanya serempak menjawab, “Mereka telah mengikhlaskan kami untuk berjuang membantu saudara-saudara kami yang terdzalimi. Adapun urusan mereka, kami serahkan semuanya kepada Allah, kami bertawakkal kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala . Dia sebaik-baiknya penjaga.”

Bagi kami yang belum begitu terasah dengan dunia jihad dan pengorbanan, memaknai tawakkal seperti yang dipahami oleh kedua mujahidin ini masih begitu susah, tetapi bagi pejuang-pejuang Suriah baik lokal maupun pendatang dari negara tetangga, istilah tawakkal itu bukan lagi teori yang dihafal dan ditulis, tetapi itu sudah menjadi keyakinan yang sudah mengakar kuat dalam sanubari mereka.
Saat saya tanya, “apakah kalian merindukan keluarga?”. Keduanya menjawab, ‘itu sudah manusiawi, tetapi penderitaan yang dialami oleh saudara kami di bumi Syam ini, mengharuskan kami untuk mengikhlaskan diri berpisah dengan keluarga-keluarga kami yang tercinta.” Abu Utsman melanjutkan, “Yang sangat sulit bagi pejuang adalah mengikhlaskan niat.” Kemudian Abu Hamzah melanjutkan, “Padahal pahala jihad sangat tinggi, ia adalah puncak ibadah tertinggi dalam Islam.” Kemudian ia membacakan beberapa ayat dan hadits terkait keutamaan jihad. “Semoga kehadiran kalian di sini ditulis sebagai ibadah ribath dan jihad di sisi Allah.” Kata Abu Hamzah mengakhiri dialog kami sehabis shalat maghrib berjama’ah di sore kala itu. “Aamin ya Rabb.” Jawab kami mengamininya.” [Abu Abdurrahman]

Sumber : Voa-Islam.com

Thursday, April 4, 2013

Biografi Singkat Imam Al-Asy’ary

Mayoritas kaum Muslimin yang berada di berbagai belahan negara Islam menisbatkan aqidah mereka kepada Abul Hasan Al-Asy’ary. Namun sangat disayangkan, mereka tidak mengenal sedikitpun tentang Abul Hasan dan juga tidak mengetahui aqidah terakhir yang beliau yakini yang menjadikan diri beliau termasuk dalam deretan imam-imam yang menjadi panutan. Kami ingin menerangkan kepada mereka hakikat sebenarnya tentang imam yang tidak diketahui oleh kebanyakan orang-orang yang menisbatkan diri mereka kepada beliau dan berpegang dengan aqidah beliau berdasarkan literatur muktabar yang telah kami teliti.

Siapa Abul Hasan Al-Asy’ary ?

Beliau adalah Ali bin Ismail bin Ishaq bin Salim bin Ismail bin Abdullah bin Musa bin Abi Burdah bin Abu Musa Al-Asy’ary.

Lahir pada tahun 260 H. Identitas ini disebutkan oleh Abul Qasim Ali bin Hasan bin Hibatullah bin ‘Asaakit Ad-Dimasyqy dalam kitabnya “Tabyiinul Kidzbil Muftari Fima Nusiba ila Abi Hasan Al-Asy’ary” , Al-Khatib Al-Baghdady dalam kitab Tarikh Baghdaady, Ibnu Khalkan dalam Wafayaatul A’yan, Adz-Dzahaby dalam Tarikh Islam, Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah dan Thabaqaat Asy-Syaafi’iyah, At-Taaj As-Subki dalam Thabaqaat Asy-Syaafi’iyah Al-Kubra, Ibnu Farhun Al Maaliky dalam Ad-Dibadzul Madzab fi A’yaani Ahli Madzab, Murtadha Az-Zubaidy dalam Ittihaafus Saadatil Muttaqin bi Syarh Asrar Ihya ‘Ulumuddin, Ibnul ‘Ammad Al-Hanbali dalam Syadzaraat Adz-Dzahab fi A’yaani min Dzahab dan lain-lain.

Imam Abul Hasan Al-Asy’ary datang ke kota Baghdad dan mengambil hadits dari Al-Hafidz Zakariya bin Yahya As-Saajy salah seorang imam hadits dan fiqh, dari Abi Khalifah Al-Jumahi, Sahl bin Sarh, Muhammad bin Ya’kub al Muqry dan Abdur Rahman bin Khalaf Al-Bashriyain. Beliau banyak meriwayatkan dari mereka dalam kitab tafsir beliau berjudul Al-Mukhtazin. Beliau juga mengambil ilmu kalam dari gurunya yaitu suami ibunya yang bernama Abi Ali Al-Jubba’i, salah seorang tokoh Mu’tazilah.

Setelah beliau mendalami ilmu kalam dan berhasil mencapai puncaknya, beliau mengajukan beberapa pertanyaan kepada gurunya tersebut. Tetapi beliau tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan hingga membuat beliau bingung.

Dikisahkan dari beliau, bahwa beliau berkata, “Selama beberapa malam, aku merasa gelisah dengan aqidah yang sedang aku pegang. Lantas aku berdiri melaksanakan shalat dua rakaat. Lalu aku memohon kepada Allah Ta’ala agar Dia menunjukiku kepada jalan yang lurus, kemudian aku tertidur. Aku melihat Rasulullah saw dalam mimpi lantas aku mengadukan kepada beliau tentang masalah yang sedang menggelayutiku. Rasulullah saw bersabda kepadaku, “Peganglah sunnahku!” kemudian akupun terbangun. Setelah itu aku membandingkan masalah-masalah ilmu kalam yang aku dapati, dengan Al Qur’an dan Hadits. Akupun berkesimpulan untuk berpegang teguh dengan Al Qur’an dan As-Sunnah serta membuang ilmu-ilmu selainnya.

Abu Bakar Ahmad bin Ali bin Tsabit yang dikenal dengan sebutan Al-Khatib Al-Baghdady wafat tahun 463 H dalam tarikhnya yang terkenal juz 11 halaman 346 berkata : “Abu Hasan Al Asy’ary adalah pemilik berbagai kitab yang membantah kaum mulhid dan lain-lainnya dari kalangan Mu’tazilah, Rafidhah, Jahmiyah, Khawarij dan berbagai kelompok bid’ah lainnya.”…kemudian beliau mengatakan : “Pada waktu itu kaum Mu’tazilah sedang berjaya hingga Allah memunculkan Abu Hasan Al-Asy’ary yang akhirnya menghujat mereka hingga tak berkutik.”

Ibnu Farhun berkata dalam kitab Ad-Dibaj : “Abu Muhammad bin Abi Zaid Al-Qiruwany dan imam-imam lainnya memberi pujian terhadap Abu Hasan Al-Asy’ary.”

Ibnul ‘Imam Al-Hanbali berkata dalam kitab Asy-Syadzaraat 2/303 : “Di antara perkara yang membuat hina panji-panji kaum Mu’tazilah dan Jahmiyah serta menjelaskan kebenaran yang sudah nyata dan membuat dada ahli iman dan ahli ma’rifah sejuk adalah perdebatan Abul Hasan Al-Asy’ary dengan gurunya, Al-Jubba’i, yang hasilnya mematahkan kekuatan semua pelaku bid’ah dan tukang debat. Perdebatan ini sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Khalkan ; “Abul Hasan Al-Asy’ary mengajukan tiga pertanyaan kepada ustadznya, Abu Ali Al-Jubbaa’i tentang tiga orang bersaudara. Yang pertama seorang mukmin, baik dan bertaqwa, yang kedua kafir, fasiq dan jahat, dan yang ketiga masih kecil. Kemudian ketiga-tiganya mati, bagaimana keadaan mereka nanti ?” Al-Jubbaa’i menjawab :”Adapun yang mukmin maka ia berada di tempat yang tinggi (jannah), sedang yang kedua berada di tempat paling rendah (neraka) dan yang masih kecil termasuk orang-orang yang selamat (dari neraka).”

Abul Hasan Al-Asy’ary bertanya lagi : “Jika si kecil ingin ke tempat saudara yang mukmin tadi, apakah ia akan diberi izin ?” Al-Jubbaa’i menjawab : “Tidak boleh ! Karena akan dikatakan kepadanya bahwa saudaramu dapat mencapai derajat ini karena ia banyak beramal, sementara kamu tidak mempunyai amal ketaatan.”Abul Hasan Al-Asy’ary berkata : “Jika si kecil menjawab : “Kesalahan ini tidak terletak padaku, karena Allah tidak membiarkan usiaku panjang dan tidak mentakdirkan kepadaku untuk melaksanakan ketaatan.” Al-Jubbaa’i berkata : “Allah swt akan berkata :’Aku mengetahui, jika Aku biarkan usiamu panjang, kamu akan menjadi orang yang durhaka dan berarti kamu berhak mendapat azab yang pedih. Maka hal itu Aku lakukan demi kemaslahatanmu.”

Abul Hasan Al-Asy’ary berkata : “Jika saudaranya yang kedua berkata ;’Wahai Ilaah semesta alam, sebagaimana Engkau mengetahui keadaannya tentunya Engkau juga sudah mengetahui keadaanku, lantas mengapa Engkau tidak memperhatikan kemaslahatanku ?” Mendengar hal itu Al-Jubbaa’i pun terdiam.”

Ibnu Imaad berkata, “Perdebatan ini menunjukkan bahwa Allah swt memberikan rahmat-Nya kepada siapa saja yang Dia kehendaki dan menimpakan azab atas siapa saja yang Dia kehendaki.”

Taajuddin As-Subki dalam Thabaqaat Asy-Syaafi’iyah Al Kubra berkata ;”Abul hasan Al-Asy’ary seorang ulama besar Ahli Sunnah setelah Imam Ahmad bin Hanbal dan tidak diragukan lagi bahwa aqidah beliau sama seperti aqidah Imam Ahmad bin Hanbal. Hal ini dengan jelas beliau sebutkan berkali-kali dalam buku-buku beliau ; “Aqidahku adalah seperti aqiah Al-Imam Ahmad bin Hanbal.” Demikianlah ucapan Syekh Abul Hasan Al-Asy’ary di berbagai tempat dalam bukunya.

Keutamaan Abul Hasan Al-Asy’ary terlalu banyak dan dalam kesempatan yang terbatas ini tidak mungkin dikumpulkan semuanya. Siapa saja yang membaca tulisan-tulisan beliau setelah bertaubat dari madzhab Mu’tazilah, akan menjumpai bahwa Allah telah mencurahkan taufik-Nya kepada beliau dan menjadikan beliau sebagai penegak kebenaran dan pembela manhaj yang haq.

Para pengikut madzhab berselisih tentang madzhab yang dianut oleh Imam Abul Hasan Al-Asy’ary. Penganut madzhab Maliki mengatakan bahwa beliau adalah seorang yang bermadzhab Maliki. Penganut madzhab Asy-Syafi’i mengatakan bahwa beliau bermadzhab Syafi’i dan demikian halnya dengan penganut madzhab Hanafy. Ibnu Asakir berkata ;”aku bertemu dengan Syekh Al Fadhil Jamal Al-Faqih lalu ia menyebutkan riwayat dari guru-gurunya bahwa Abul Hasan Al-Asy’ary bermadzhab Maliki. Kemudian sekarang ini siapa saja yang menisbatkan diri kepada madzhab Ahli Sunnah dan orang-orang yang menekuni masalah-masalah ushuluddin dari berbagai madzhab menisbatkan diri kepada beliau, karena banyaknya buku-buku karangan beliau dan banyaknya orang-orang yang membacanya.

Ibnu Faurak berkata ;”Abul Hasan Al-Asy’ary wafat pada tahun 324 H.”

Setelah disebutkan secara ringkas biografi ulama ini, selanjutnya akan disebutkan bukti taubat beliau dari pemikiran Mu’tazilah serta bukti penisbatan kitab Al-Ibaanah ini kepada beliau dan kami juga akan memaparkan literatur-literatur yang menjelaskan tentang hal itu. InsyaAllah.




Oleh : Ummu Fauzi

Sumber ; Buku “Al-Ibaanah, ‘An Ushulid Diyanah” Penulis : Imam Abul Hasan Al-Asy’ari.

Sumber : KabarDuniaIslam (fanpage FB)

Tuesday, April 2, 2013

Siswa-Siswa di Inggris Masuk Islam…. Inilah Alasan Mereka

Ada fenomena yang mengejutkan dari Sekolah-sekolah di Inggris, baru-baru ini terdapat laporan yang menyebutkan bahwa ada peningkatan jumlah siswa yang memeluk Islam, dan sebagian besar siswa di Inggris (serta siswa yang berasal dari negara lain seperti Brazil, Luksemburg, Panama dan Swedia) mengungkapkan “rahasia” mengapa mereka memeluk Islam.
Menurut Al-Jazerra.net, seorang siswa, Alexandra (12 tahun), yang memeluk Islam pada bulan Ramadhan lalu dan merupakan putri Lauren Booth, adik Istri mantan perdana menteri Inggris Tony Blair, mengatakan bahwa “Islam telah merubah hidup saya dan memberi saya kehormatan dan kerendahan hati, dan saya juga menjadi lebih menghormati diri sendiri setelah saya memutuskan untuk mengenakan Jilbab.”
Alexandra menambahkan,”saya beruntung setelah pindah ke sekolah menengah pada tahun ini, dimana manejmen Sekolah dan siswa lain memperlakukan saya dengan  hormat, dan saya merasakan  sangat senang setelah diberikan ruang khusus bagi saya untuk melaksanakan sholat.”
Bukan hanya Alexandra, George radev (14 tahun) juga menyatakan hal yang hampir sama. Awalnya siswa asal Swedia itu sangat senang mengambil gambar menara masjid, dan ia juga mengaku bahwa mengalami perasaan yang aneh saat mendengar azan. Hal itu mendorongnya untuk bertanya kepada teman sekolahnya Abdullah dan Tamer, dan mereka akhirnya membantu mencari penjelasan dan informasi lainnya melalui internet. Lalu ia menyampaikan kepada keluarganya bahwa ia ingin masuk Islam, keluarganya tidak keberatan dan menyuruhnya untuk mempelajari lagi keputusannya tersebut, dan akhirnya george memutuskan memeluk Islam bulan lalu di London.
Randev sampai saat ini masih bertanya-tanya,” mengapa hanya kontroversi bodoh tentang Islam yang memenuhi media kami?”
Begitu pula halnya dengan Sheila Rudd (15 tahun) yang berasal dari Eardenj selatan London. Ia mengatakan.”sesunggunya Islam adalah cinta sejati, ia bukanlah nafsu atau botol kaca (minuman keras) atau potongan candu (drugs) yang dijual dipasaran.”
Rudd juga menyatakan kebahagiaannya setelah memeluk Islam tahun lalu, ia melihat banyak orang di Inggris memeluk Islam,menurutnya propaganda Media gagal mencegah mereka untuk memeluk Islam.
Dalam konteks yang terkait, banyak pengamat di Inggris menunjukkan penurunan jumlah gereja-gereja tradisional di Inggris, dan “aturan” yahudi dan kristen serta prinsip hidup masyarakat Inggris dianggap menciptakan kekosongan spiritual yang hanya bisa ditutupi oleh ajaran Islam yang murni.
Menurut beberapa studi di Inggris yang menunjukkan bahwa jumlah muslim di Inggris selama 6 tahun terakhir bertambah sebesar 37% dan tercatat jumlah masjid mencapai 1500 masjid, sementara Institute Gatston Inggris menegaskan bahwa ratusan warga Inggris masuk Islam setiap bulannya. (hr/IS)

Sunday, March 24, 2013

Jadilah Pemuda Muslim yang Tangguh!

ADALAH Az Zubai bin Awwan. Ia adalah sosok pemuda teman diskusi Rasulullah, anggota pasukan berkuda, tentara yang pemberani, pemimpin dakwah Islam di zamannya dalam usia 15 tahun.

Sementara Thalhah bin Ubaidillah, seorang pembesar utama barisan Islam di Makkah, singa podium yang handal, pelindung Nabi saat perang Uhud berkecamuk dengan tujuh puluh luka tusuk tombak, donator utama fii sabilillah, mendapat julukan dari Rasulullah: Thalhah si pemurah, Thalhah si Dermawan di usianya yang masih sangat muda.

Juga Sa’ad bin Abi Wawash, seorang ksatria berkuda Muslimin paling berani di saat usianya baru menginjak 17 tahun. Ia dikenal sebagai pemanah terbaik, sahabat utama yang pertama kali mengalirkan darahnya untuk Islam, lelaki yang disebut Rasulullah sebagai penduduk surga.

Zaid bin Tsabit, mendaftar jihad fii sabilillah sejak usia 13 tahun, pemuda jenius mahir baca-tulis. Hingga Rasulullah bersabda memberi perintah: “Wahai Zaid, tulislah….”. Ia mendapat tugas maha berat, menghimpun wahyu, di usia 21 tahun.

Juga Usamah bin Zaid,  namanya terkenal harum sejak usia 12 tahun, mukmin tangguh dan muslim yang kuat, Rasulullah menunjuknya sebagai panglima perang di usianya yang ke-20 dan memimpin armada perang menggempur negara adikuasa Romawi di perbatasan Syiria dengan kemenangan gemilang.

Subhanallah…, nukilan kisah di atas bukanlah dongeng atau cerita fiktif. Mereka adalah manusia biasa yang nyata seperti kita, yang telah mengukir prestasi gemilang di masa mudanya. Merekalah adalah pemuda Islam yang mampu mengharumkan agama Allah dalam keremajaannya.

Misi Kejayaan Islam

Tidak diragukan lagi bahwa para pemuda memiliki peran yang sangat penting dalam tatanan kehidupan manusia secara umum dan masyarakat kaum muslimin secara khusus. Jika mereka adalah para pemuda yang baik dan terdidik dengan adab-adab Islam maka merekalah yang akan menyebarkan dan mendakwahkan kebaikan Islam serta menjadi nakhoda ummat ini yang akan mengantarkan mereka kepada kebaikan dunia dan akhirat.

Allah -Subhanahu wa Ta'ala- telah memberikan kepada mereka kekuatan badan dan kecemerlangan pemikiran untuk dapat melaksanakan semua hal tersebut. Berbeda halnya dengan orang yang sudah tua umurnya walaupun para orang tua ini melampaui mereka dari sisi kedewasaan dan pengalaman, hanya saja faktor kelemahan jasad -kebanyakannya- membuat mereka tidak mampu untuk mengerjakan apa yang bisa dikerjakan oleh para pemuda.

Oleh karena itulah para sahabat yang masih muda memiliki andil dan peran yang sangat besar dalam menyebarkan agama ini baik dari sisi pengajaran maupun dari sisi berjihad di jalan Allah -Subhanahu wa Ta'ala-.
Di antara mereka ada Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Amr ibnul Ash, Muadz bin Jabal, dan Zaid bin Tsabit yang mereka ini telah mengambil dari Nabi -Shollallahu 'alaihi wa 'ala alihi wasallam- berbagai macam ilmu yang bermanfaat, menghafalkannya, dan menyampaikan-nya kepada ummat sebagai  warisan dari Nabi mereka. Di sisi lain ada Khalid ibnul Walid, Al-Mutsanna bin Haritsah, Asy-Syaibany dan selain mereka yang gigih dalam menyebarkan Islam lewat medan pertempuran jihad di jalan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Seluruhnya mereka adalah satu ummat yang tegak melaksanakan beban kewajiban mereka kepada agama, ummat, dan masyarakat mereka, yang mana pengaruh atau hasil usaha mereka masih kekal sampai hari ini dan akan terus-menerus ada -dengan izin Allah- sepanjang Islam ini masih ada.

Para pemuda di zaman ini adalah para pewaris mereka (para pemuda dari kalangan shahabat) jika mereka mampu untuk memperbaiki diri-diri mereka, mengetahui hak dan kewajiban mereka, serta melaksanakan semua amanah yang diberikan kepada mereka yang berkaitan dengan ummat ini.

Dan bagi mereka kabar gembira dari Nabi mereka -Shallallahu alaihi wasallam- tatkala beliau bersabda dalam hadits yang shahih, “Ada tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah pada hari yang tiada naungan kecuali naungan-Nya,” lalu beliau menyebutkan di antaranya, “Seorang pemuda yang tumbuh dalam penyembahan kepada Rabbnya.”

Perhatian Islam Kepada Pemuda
Agama kita Islam yang mulia ini mempunyai perhatian yang sangat besar mengenai pertumbuhan dan perkembangan para pemuda, karena merekalah yang akan menjadi tokoh di masa yang akan datang, yang akan menggantikan dan mewarisi tugas-tugas mulia kepada ummat ini.

Berikut beberapa tuntunan Islam yang berkaitan dengan pemuda;
Pertama, Islam menuntunkan setiap lelaki untuk memilih istri yang sholihah yang akan lahir darinya anak-anak yang sholeh yang selanjutnya tumbuh menjadi para pemuda yang berakhlak islami.
Kedua, memberikan nama yang baik kepada anak, karena nama yang baik itu juga memiliki makna dan pengaruh yang baik pada akhlak sang anak, karena dia merupakan lambang dari doa atau harapan orang tua kepada Allah tentang anaknya.
Ketiga, melaksanakan nasikah/aqiqah untuk anak, karena hukumnya adalah sunnah mu`akkadah dan memiliki pengaruh yang baik kepada anak.
Ketiga perkara di atas adalah tuntunan Islam kepada para pemuda di awal pertumbuhannya.
Keempat, menaruh perhatian yang besar dalam mendidik anak ketika dia sudah memasuki usia mumayyiz dan sudah mempunyai daya tangkap (paham). Mengajarkan kepada anak-anak dan para pemuda semua perkara keagamaan dari yang paling besar sampai pada perkara yang paling kecil.
Kelima, Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan setiap anak ketika kedua orang tuanya atau salah satunya sudah berusia lanjut agar dia berbuat baik kepada keduanya atau kepada yang masih hidup di antara keduanya, dan agar sang anak mengingat pendidikan kedua orang tuanya kepadanya ketika dia masih kecil. Inilah yang merupakan kebaikan besar yang akan terus-menerus dikenang oleh sang anak ketika dia merasakan kebaikan dari kedua orang tuanya. Sehingga dia bisa berkata sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala, “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.”

Wahai pemuda, sebenarnya rona kebangkitan Islam ada padamu. Maka;
1. Pelajari agama Islammu
2. Tegakkan tauhid, berantaslah syirik dan tinggalkan maksiat apaun bentuknya.
3. Tautkan hatimu dengan masjid.
4. Bersiaplah untuk berdakwah di jalan Allah.
5. Selektiflah dalam mengambil teman dekat, namun tidak kurang pergaulan.
6. Pekalah terhadap zamanmu, inderalah zaman di mana engkau berada saat ini.
7. Milikilah fisik dan jiwa yang sehat.
8. Aturlah waktumu sebaik mungkin.

Insya Allah, kalian akan menjadi agen perubahan Islam yang cemerlang. Aamiin.[Iltizam Amrullah, dirujuk dari ”Karakteristik Perihidup Enam Puluh Shahabat Rasulullah”].
sumber : Hidayatullah.com

Saturday, March 23, 2013

Puisi Sayyid Qutb Ketika Ia Jatuh Cinta

Ya Allah, jika aku jatuh cinta,
cintakanlah aku pada seseorang yang melabuhkan cintanya pada-Mu,
agar bertambah kekuatan ku untuk mencintai-Mu.
Ya Muhaimin, jika aku jatuh cinta,
jagalah cintaku padanya agar tidak melebihi cintaku pada-Mu
Ya Allah, jika aku jatuh hati,
izinkanlah aku menyentuh hati seseorang yang hatinya tertaut pada-Mu,
agar tidak terjatuh aku dalam jurang cinta semu.
Ya Rabbana, jika aku jatuh hati,
jagalah hatiku padanya agar tidak berpaling pada hati-Mu.
Ya Rabbul Izzati, jika aku rindu,
rindukanlah aku pada seseorang yang merindui syahid di jalan-Mu.
Ya Allah, jika aku rindu,
jagalah rinduku padanya agar tidak lalai aku merindukan syurga-Mu.
Ya Allah, jika aku menikmati cinta kekasih-Mu,
janganlah kenikmatan itu melebihi kenikmatan indahnya bermunajat di sepertiga malam terakhirmu.
Ya Allah, jika aku jatuh hati pada kekasih-Mu,
jangan biarkan aku tertatih dan terjatuh dalam perjalanan panjang menyeru manusia kepada-Mu.
Ya Allah, jika Kau halalkan aku merindui kekasih-Mu,
jangan biarkan aku melampaui batas sehingga melupakan aku pada cinta hakiki dan rindu abadi hanya kepada-Mu.
Ya Allah Engkau mengetahui bahawa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta pada-Mu,
telah berjumpa pada taat pada-Mu,
telah bersatu dalam dakwah pada-MU,
telah berpadu dalam membela syariat-Mu.
Kukuhkanlah Ya Allah ikatannya.
Kekalkanlah cintanya.
Tunjukilah jalan-jalannya.
Penuhilah hati-hati ini dengan Nur-Mu yang tiada pernah pudar.
Lapangkanlah dada-dada kami dengan limpahan keimanan kepada-Mu dan keindahan bertawakal di jalan-Mu.
(As-Syahid Sayyid Qutb)

Thursday, December 6, 2012

Kisah Teladan 'Uzair

Pada suatu hari ketika 'Uzair memasuki kebunnya yang menghijau dengan pokok-pokok kurma dan tiba-tiba hatinya tertarik untuk memikirkan rahasia keindahan dan keajaiban alam ini. Sesudah memetik buah-buahan dia pulang dengan keledainya sambil menikmati keindahan keindahan alam sekitarnya sehingga keledai yang ditungganginya tersesat jalan. Setelah sekian lama barulah dia sadar bahwa dia telah berada disuatu daerah yang tidak dikenali oleh beliau serta sudah jauh dari negerinya sendiri. Sewaktu dia sampai ke daerah itu dilihatnya kampung itu baru saja diserbu oleh musuh-musuh sehingga menjadi hancur luluh lantah sama sekali. Dibekas runAlloh terdapat mayat-mayat manusia yang bergelimpangan yang sudah busuk serta hancur. Melihatkan pemandangan yang mengerikan itu, dia pun turun dari keledainya dengan membawa dua
keranjang buah-buahan. Manakala keledainya itu ditambat disitu, kemudian dia pun duduk bersandar pada dinding sebuah rumah yang sudah runtuh untuk melepaskan penatnya. Pada saat itu, pikirannya mula memikirkan mayat manusia yang sudah busuk itu. "Bagaimana orang-orang yang sudah mati dan hancur itu akan dihidupkan oleh Alloh kembali di negeri akhirat?" begitulah pertanyaan yang datang berulang-ulang dan tidak terjawab olehnya, sehingga dia menjadi lemah dan kemudian terus tertidur. Dalam tidur itu, dia seakan-akan bertemu dengan semua arwah (roh-roh) orang-orang yang sudah meninggal itu. Tidurnya amat luar biasa sekali, bukan hanya sejam atau semalam, tetapi dia telah tidur terus-menerus tanpa bangun-bangun selama seratus tahun lamanya. Dalam masa dia tertidur itu, keadaan di sekitarnya sudah ramai dengan masyarakat yang baru baru, rumah serta bangunan-bangunan banyak yang telah didirikan. Dalam masa seratus tahun itu, segala-galanya sudah berubah, manakala 'Uzair tetap terus tidur tersandar di dinding buruk itu menjadi jasad (tubuh) yang tidak bernyawa lagi. Dagingnya sudah hancur dan tulang belulangnya sudah hancur lebur berderai. Kemudian jasad 'Uzair yang telah mati, daging dan tulangnya yang sudah hancur itu disusun kembali oleh Allah pada bahagiannya masing-masing lalu ditiupkan ruhnya. Dan ketika itu juga 'Uzair hidup kembali seperti dahulu.'Uzair terus berdiri seperti orang yang bangun dari tidur lantas dia mencari
keledai dan buah-buahannya di dalam keranjang dahulu. Tidak berapa lama kemudian, turunlah beberapa malaikat seraya bertanya,
"Tahukah engkau ya 'Uzair berapa lama engkau tidur?"
Tanpa berfikir panjang 'Uzair menjawab, "Saya tertidur sehari dua ataupun
setengah hari."
Lalu malaikat pun berkata kepadanya, "Bahawa engkau terdampar di sini
genap seratus tahun lamanya. Disinilah engkau berbaring, berhujan dan
berpanas matahari, kadang-kadang ditiup badai dan berhawa sejuk dan juga
panas terik. Dalam masa yang begitu panjang, makanan engkau tetap baik
keadaannya. Tetapi coba lihat keadaan keledai itu, dia sendiri pun sudah
hancur dan dagingnya sudah busuk."
Berkata malaikat lagi, "Lihatlah dan perhatikanlah sungguh-sungguh.
Demikianlah kekuasaan Allah. Allah dapat menghidupkan kembali orang yang
sudah mati dan mengembalikan jasad-jasad yang sudah hancur lebur dan
dengan semudah itu pulalah Alloh akan membangkitkan semua manusia
yang sudah mati itu nanti di akhirat untuk diperiksa dan diadili segala
perbuatannya. Hal ini diperlihatkan oleh Alloh kepada engkau supaya iman
engkau tetap dan engkau sendiri dapat menjadi bukti kepada manusia lain, supaya engkau dan manusia yang lainnya tidak berperasangka dan ragu-ragu
lagi tentang apa yang diterangkan Alloh tentang akhirat itu."
Setelah 'Uzair melihat makanan dan keledainya yang sudah hancur itu, maka
'Uzair pun berkata, "Sekarang tahulah saya bahawa Alloh itu adalah berkuasa
keatas tiap-tiap sesuatu." Tiba-tiba keledai yang sudah hancur  itu
dilihatnya mulai dikumpulkan daging dan tulangnya. Dan akhirnya menjadi
seperti sediakala, keledai itupun hidup kembali bergerak-gerak dan berdiri sebagaimana sebelum mati. Maka 'Uzair pun berkata, "Sekarang tahulah saya bahwa
Allah berkuasa di atas segala-galanya." Lalu dia pun terus mengambil
keledainya dahulu dan terus menunggangnya pulang ke rumahnya dahulu
dengan mencari-cari jalan yang sukar untuk dikenali. Dilihatnya semua telah berubah. Dia coba mengingati apa yang pernah dilihatnya seratus tahun dahulu. Setelah menempuh berbagai kesulitan, akhirnya dia pun sampai ke rumahnya. Pada saat dia sampai di situ, dia mendapati rumahnya sudah
pun rusak di mana semua dinding rumahnya telah habis runtuh. Pada waktu ia  memandang keadaan sekeliling rumahnya, dia melihat seorang
perempuan tua, lantas dia pun bertanya, "Inikah rumah engkau 'Uzair?"
"Ya," jawab perempuan itu. "Inilah rumah 'Uzair dahulu, tetapi 'Uzair telah
lama pergi dan tidak didengar berita tentangnya lagi sehingga semua orang
pun lupa padanya dan saya sendiri tidak pernah menyebut namanya selain
kali ini saja." Kata perempuan itu sambil menitiskan airmata.
'Sayalah 'Uzair," jawab 'Uzair dengan pantas. "Saya telah dimatikan oleh
Alloh seratus tahun dulu dan sekarang saya sudah dihidupkan oleh Allah
kembali."
Perempuan tua itu terkejut seakan-akan tidak percaya, lalu dia pun berkata,
"'Uzair itu adalah seorang yang paling soleh, doanya selalu dimakbulkan oleh
Alloh dan telah banyak jasanya di dalam menyembuhkan orang yang sakit." Sambungnya lagi, "Saya ini adalah hambanya sendiri, badan saya telah
tua dan lemah, mata saya telah pun buta karena selalu menangis
mengingat 'Uzair. Kalaulah engkau ini 'Uzair maka cobalah engkau doakan
kepada Alloh suaya mata saya melihat kembali dan dapat melihat engkau."
"Uzair pun membuka kedua belah tangannya ke langit lalu berdoa kepada Alloh. Tiba-tiba mata orang rua itupun terbuka dan dapat melihat dengan
lebih terang lagi. Tubuhnya yang tua dan lemah itu kembali kuat seakan-akan
kembali muda. Setelah merenung wajah 'Uzair dia pun berkata, "Benar,
engkaulah 'Uzair. Saya masih ingat." Hambanya itu terus mencium tangan 'Uzair
lalu keduanya pergi mendapatkan keramaian, bangsa Israil. 'Uzair
memperkenalkan dirinya bahwa dialah 'Uzair yang pernah hidup di kampung
itu lebih seratus tahun yang lalu.
Berita itu bukan saja mengejutkan Bani Israil pada saat itu, tetapi ada juga meragukan
dan ada yang tidak percaya kepadanya. Walau bagaimanapun berita itu
menarik perhatian semua orang yang hidup ketika itu. Karena itu mereka
ingin menguji kebenaran 'Uzair. Kemudian datanglah anak kandungnya
sendiri seraya bertanya, "Saya masih ingat bahawa bapaksaya mempunyai
tanda di punggungnya. Cobalah periksa tanda itu. Kalau ada benarlah dia
'Uzair."
Tanda itu memang ada pada 'Uzair, lalu percayalah sebagian daripada
mereka. Akan tetapi sebagian lagi maukan bukti yang lebih nyata, maka
mereka berkata kepada 'Uzair, "Bahawa sejak penyerbuan Nebukadnezar ke
atas bangsa dan  negara Israil dan setelah tentera tersebut membakar kitab
suci Taurat, maka tiadalah seorang pun bani Israil yang hafal isi Taurat
kecuali 'Uzair saja. Kalau benarlah engkau Uzair, cobalah engkau sebutkan isi
Taurat dengan benar."
'Uzair pun membaca isi Taurat itu satu persatu dengan fasih dan lancar serta
tidak salah walaupun sedikit. Mendengarkan itu barulah mereka percaya
bahawa sungguh benar itulah 'Uzair. Ketika itu, semua bangsa Israil
pun percaya bahwa dialah 'Uzair yang telah mati dan dihidupkan kembali oleh
Alloh. Banyak di antara mereka yang bersalam dan mencium tangan 'Uzair
serta meminta nasihat dan panduan daripadanya. Tetapi sebahagian
daripada kaum Yahudi yang bodoh menganggap 'Uzair sebagai anak Alloh. Maha Suci Allah tidak mempunyai anak samada 'Uzair maupun Isa
karena semua makhluk adalah kepunyaan-Nya belaka. Janganlah kita waswas
tentang kekuasaan Allah, maka hendaklah dia pikir siapakah yang
menciptakan dirinya itu. Adalah mustahil sesuatu benda itu terjadi dengan
sendirinya tanpa ada yang menciptakan. Kalau masih ada orang yang ragu-ragu
tentang kekuasaan Allah, obatnya hanya satu saja, hendaklah dia
membaca dan memahami al-Qur'an, was-was terhadap kekuasaan Allah itu
hanya datangnya dari syaitan.

Thursday, November 29, 2012

Kisah Teladan Uwais Al Qorni

Pada zaman Nabi Muhammad SAW, ada seorang pemuda bermata biru, rambutnya merah, pundaknya lapang panjang, berpenampilan cukup tampan, kulitnya kemerah-merahan, dagunya menempel di dada selalu melihat pada tempat sujudnya, tangan kanannya menumpang pada tangan kirinya, ahli membaca Al-Qur’an dan menangis, pakaiannya hanya dua helai sudah kusut yang satu untuk penutup badan dan yang satunya untuk selendangan, tiada orang yang menghiraukan, tak dikenal oleh penduduk bumi akan tetapi sangat terkenal di langit.
Beliau adalah Uwais bin Amir bin Jaz-un bin Malik al-Qorni, al-Muradi, al-Yamani. Nama qunyah beliau adalah Abu Amr, beliau adalah suri teladan dalam kezuhudan, beliaulah salah satu dari pemimpinnya para.tabi’in pada zamannya.
Diriwayatkan dari Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu dia berkata: “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik tabi’in adalah seorang lelaki yang dipanggil Uwais, dia mempunyai seorang ibu, dan padanya terdapat tanda putih (di bawah pundaknya –red), maka suruhlah dia untuk memintakan ampun bagi kalian.(HR. Muslim).
Tahukah anda bagaimana Uwais menjadi begitu terkenal dan namanya sering disebut di bibir penduduk langit? Uwais Al-Qarni, seorang pemuda miskin yang tidak dikenali dikalangan orang kebanyakkan ketika itu.
Kesibukannya sebagai penggembala domba dan merawat ibunya yang lumpuh dan buta, tidak memengaruhi kegigihan ibadahnya, ia tetap melakukan puasa di siang hari dan bermunajat di malam harinya.
Pemuda ini hidup di zaman Rasulullah namun tidak pernah bertemu baginda. Walaupun tidak pernah bertemu karena Uwais akan tetapi berkeinginan menemui Rasulullah, namun ketaatan menjaga ibunya yang sudah uzur menyebabkan Uwais terpaksa memendamkan hasrat di hati.
Di ceritakan ketika terjadi Pertempuran Uhud Rasulullah SAW mendapat cedera.dan giginya patah karena dilempari batu oleh musuh-musuhnya. Kabar ini akhirnya terdengar oleh Uwais. Ia segera.memukul giginya dengan batu hingga patah. Hal tersebut dilakukan sebagai bukti kecintaannya kepada beliau SAW, sekalipun ia belum pernah melihatnya. Hari berganti dan musim berlalu, dan kerinduan yang tak terbendung membuat hasrat untuk bertemu tak dapat dipendam lagi. Uwais merenungkan diri dan bertanya dalam hati, kapankah ia dapat menziarahi Nabinya dan memandang wajah beliau dari dekat?
Tapi, bukankah ia mempunyai ibu yang sangat membutuhkan perawatannya dan tidak tega ditinggalkan sendiri, hatinya selalu gelisah siang dan malam menahan kerinduan untuk berjumpa. Akhirnya, pada suatu hari Uwais mendekati ibunya, mengeluarkan isi hatinya dan memohon izin kepada ibunya agar diperkenankan pergi menziarahi Nabi SAW di Madinah. Sang ibu, walaupun telah uzur, merasa terharu ketika mendengar permohonan anaknya.
Beliau memaklumi perasaan Uwais, dan berkata, “Pergilah wahai anakku! temuilah Nabi di rumahnya. Dan bila telah berjumpa, segeralah engkau kembali pulang”. Dengan rasa gembira.ia berkemas untuk berangkat dan tak lupa menyiapkan keperluan ibunya yang akan ditinggalkan serta berpesan kepada tetangganya agar dapat menemani ibunya selama ia pergi.
Sesudah berpamitan sambil menciumi sang ibu, berangkatlah Uwais menuju Madinah yang berjarak kurang lebih empat ratus kilometer dari Yaman.
Medan yang begitu ganas dilaluinya, tak peduli penyamun gurun pasir, bukit yang curam, gurun pasir yang luas yang dapat menyesatkan dan begitu panas di siang hari, serta begitu dingin di malam hari, semuanya dilalui demi bertemu dan dapat memandang sepuas-puasnya paras baginda Nabi SAW yang selama ini dirindukannya.
Tibalah Uwais al-Qarni di kota Madinah. Segera.ia menuju ke rumah Nabi SAW, diketuknya pintu rumah itu sambil mengucapkan salam. Keluarlah istri Rasulullah shallahu alahi wassalam, ‘Aisyah r.a., sambil menjawab salam Uwais.
Segera.saja Uwais menanyakan Nabi yang ingin dijumpainya. Namun ternyata beliau SAW tidak berada di rumah melainkan berada di medan perang. Betapa kecewa hati sang perindu, dari jauh ingin berjumpa tetapi yang dirindukannya tak berada di rumah. Dalam hatinya bergolak perasaan ingin menunggu kedatangan Nabi SAW dari medan perang.
Tapi, kapankah beliau pulang ? Sedangkan masih terngiang di telinga pesan ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan itu, agar ia cepat pulang ke Yaman,” Engkau harus lekas pulang”.

Karena ketaatan kepada ibunya, pesan ibunya tersebut telah mengalahkan suara.hati dan kemauannya untuk menunggu dan berjumpa dengan Nabi SAW. Ia akhirnya dengan terpaksa mohon pamit kepada  ’Aisyah r.a. untuk segera.pulang ke negerinya. Dia hanya menitipkan salamnya untuk Nabi SAW dan melangkah pulang dengan perasaan haru.
Sepulangnya dari perang, Nabi SAW langsung menanyakan tentang kedatangan orang yang mencarinya. Nabi Muhammad SAW menjelaskan bahwa Uwais al-Qarni adalah anak yang taat kepada ibunya. Ia adalah penghuni langit (sangat terkenal di langit). Mendengar perkataan baginda Rosulullah SAW, ‘Aisyah r.a. dan para.sahabatnya tertegun.
Menurut informasi sayyidatina ‘Aisyah r.a., memang benar ada yang mencari Nabi SAW dan segera.pulang kembali ke Yaman, karena ibunya sudah tua dan sakit-sakitan sehingga ia tidak dapat meninggalkan ibunya terlalu lama.
Sesudah itu Rasulullah S.A.W, memandang kepada Ali. RA.dan Umar RA.dan bersabda:
“Suatu ketika, apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah doa dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit dan bukan penghuni bumi.”
Tahun terus berjalan, dan tidak lama kemudian Nabi S.A.W wafat, hinggalah sampai waktu khalifah Abu Bakar as-Shiddiq RA. telah digantikan dengan Khalifah Umar R.A.
Suatu ketika, khalifah Umar teringat akan sabda Nabi S.A.W tentang Uwais al-Qarni, sang penghuni langit. Beliau segera.mengingatkan kepada Ali R.A.untuk mencarinya bersama.
Sejak itu, setiap ada kafilah yang datang dari Yaman, mereka berdua selalu bertanya tentang Uwais al-Qarni, apakah ia turut bersama mereka. Di antara.kafilah-kafilah itu ada yang merasa heran, apakah sebenarnya yang terjadi sampai ia dicari oleh beliau berdua.
Rombongan kafilah dari Yaman menuju Syam silih berganti, membawa barang dagangan mereka. Suatu ketika, Uwais al-Qarni turut bersama rombongan kafilah menuju kota Madinah.
Melihat ada rombongan kafilah yang datang dari Yaman, segera.khalifah Umar RA.dan Ali R.A.mendatangi mereka dan menanyakan apakah Uwais turut bersama mereka.
Rombongan itu mengatakan bahawa ia ada bersama mereka dan sedang menjaga unta-unta mereka di perbatasan kota. Mendengar jawapan itu, beliau berdua bergegas pergi menemui Uwais al-Qarni.
Sesampainya di kemah tempat Uwais berada, Khalifah Umar RA.dan Ali R.A.memberi salam. Namun rupanya Uwais sedang melaksanakan sholat. Setelah mengakhiri sholatnya, Uwais menjawab salam kedua tamu agung tersebut sambil bersalaman.
Sewaktu berjabat tangan, Khalifah Umar segera.membalikkan tangan Uwais, untuk
membuktikan kebenaran tanda putih yang berada di telapak tangan Uwais,
sebagaimana pernah disabdakan oleh baginda Nabi S.A.W.
Memang benar! Dia penghuni langit. Dan ditanya Uwais oleh kedua tamu tersebut,
“Siapakah nama saudara?”
“Abdullah.” Jawab Uwais.
Mendengar jawapan itu, kedua sahabat pun tertawa dan mengatakan,
“Kami juga Abdullah, yakni hamba Allah. Tapi siapakah namamu yang sebenarnya?”
Uwais kemudian berkata “Nama saya Uwais al-Qarni.”
Dalam pembicaraan mereka, diketahuilah bahwa ibu Uwais telah meninggal dunia.
Itulah sebabnya, dia baru dapat turut bersama rombongan kafilah dagang saat itu. Akhirnya, Khalifah Umar dan Ali K.W. memohon agar Uwais berkenan mendoakan untuk mereka.
Uwais enggan dan dia berkata kepada khalifah,
“Sayalah yang harus meminta doa daripada kalian.”
Mendengar perkataan Uwais, Khalifah berkata,
“Kami datang ke sini untuk mohon doa dan istighfar daripada anda.”
Karena desakan kedua sahabat ini, Uwais al-Qarni akhirnya mengangkat kedua tangannya, berdoa dan membacakan istighfar.
Setelah itu Khalifah Umar RA.berjanji untuk menyumbangkan uang negara.daripada Baitulmal kepada Uwais, untuk jaminan hidupnya. Segera Uwais menolak dengan halus dengan berkata,
“Hamba mohon supaya hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk hari-hari selanjutnya, biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi.”
Setelah kejadian itu, nama Uwais kembali tenggelam dan tidak terdengar beritanya.
Beberapa waktu kemudian, tersiar khabar Uwais al-Qarni telah pulang ke rahmatullah. Anehnya, pada saat dia akan dimandikan tiba-tiba sudah banyak orang yang berebut untuk memandikannya. Dan ketika dibawa ke tempat pembaringan untuk dikafan, di sana sudah ada orang-orang yang menunggu untuk mengkafankannya.
Demikian juga ketika orang pergi hendak menggali kuburnya. Di sana ternyata sudah ada orang-orang yang menggali kuburnya hingga selesai. Ketika usungan dibawa menuju ke perkuburan, luar biasa banyaknya orang yang berebutan untuk mengusungnya.
Kepergian Uwais al-Qarni telah menggemparkan masyarakat kota Yaman. Banyak terjadi hal-hal yang amat mengherankan. Sedemikian banyaknya orang yang tidak kenal datang untuk mengurus jenazah dan pengebumiannya, padahal Uwais adalah seorang fakir yang tidak dihiraukan orang.
Sejak dia dimandikan hingga jenazahnya hendak diturunkan ke dalam kubur, di situ selalu ada orang-orang yang telah siap melaksanakannya terlebih dahulu. Penduduk kota Yaman tercengang.
Mereka saling bertanya-tanya “Siapakah sebenarnya engkau wahai Uwais al-Qarni? Bukankah Uwais yang kita kenal, hanyalah seorang fakir yang tidak memiliki apa-apa? Kerjanya hanyalah sebagai penggembala?”
“Namun, ketika hari wafatmu, engkau telah menggemparkan penduduk Yaman dengan hadirnya manusia-manusia asing yang tidak pernah kami kenali. Mereka datang dalam jumlah sedemikian banyaknya.”
Agaknya mereka adalah para.malaikat yang diturunkan ke bumi, hanya untuk mengurus jenazah dan pemakamannya. Baru saat itulah penduduk Yaman mengetahuinya siapa Uwais al-Qarni.
“Dialah Uwais al-Qarni, tidak terkenal di bumi tapi sangat terkenal di langit.”
Subhanallah…Apa Rahasia Uwais Al-Qarni sehingga martabatnya begitu tinggi di sisi Allah? Kuncinya adalah Uwais  seorang anak yang taat, menjaga ibunya sehingga ibunya meninggal dunia…Hidup di zaman Rasulullah tetapi rela tidak sempat menemui baginda karena ketaatan kepada ibunya…

sumber : qurantafsiriyah.com